Urban Farming
efek psikologis menanam makanan sendiri di tengah hutan beton
Pernahkah kita tiba-tiba merasa jenuh menatap layar, lalu entah kenapa punya dorongan aneh untuk membeli tanaman hias yang hampir mati di pojokan minimarket? Atau mungkin, kita merasa bangga luar biasa hanya karena berhasil membuat satu tunas daun bawang tumbuh di gelas plastik bekas boba? Saya rasa, banyak dari kita pernah mengalaminya. Di tengah lautan beton dan jadwal yang mencekik, ada sesuatu yang memanggil kita kembali ke tanah. Kita seolah lupa dari mana makanan kita berasal karena terlalu terbiasa menekan tombol di layar smartphone lalu menunggu pesanan diantar ke depan pintu. Tapi anehnya, di balik segala kemudahan itu, kita sering kali justru merasa semakin kosong dan kelelahan. Mengapa bisa begitu?
Mari kita mundur sedikit ke masa lalu untuk melihat sejarah kita sendiri. Leluhur kita adalah pemburu dan pengumpul, yang kemudian berevolusi menjadi petani. Tangan mereka kotor oleh lumpur. Mereka membaca perubahan cuaca, bukan membaca utas yang sedang trending di media sosial. Secara evolusioner, otak kita didesain untuk terhubung langsung dengan alam dan siklus musim. Namun sekarang, kita memenjarakan diri di dalam kotak-kotak kubikel ber-AC. Otak purba kita mengalami apa yang oleh para ilmuwan disebut sebagai evolutionary mismatch atau ketidakcocokan evolusi. Lingkungan modern kita berubah terlalu cepat, sedangkan biologi kita tertinggal jauh di belakang. Inilah mengapa tren urban farming atau berkebun di perkotaan tidak pernah benar-benar mati. Ini bukan sekadar hobi estetik. Ini adalah jeritan bawah sadar kita yang mencari kewarasan di tengah kota yang bising.
Kita semua tahu bahwa melihat warna hijau itu menenangkan. Tapi, apakah sebatas itu saja? Apakah efek tenang dari berkebun sekadar sugesti belaka karena kita menjauh dari layar gawai? Atau jangan-jangan ada sesuatu yang lebih fundamental, sesuatu yang secara harfiah mengubah susunan kimiawi di otak kita saat tangan kita menggali tanah? Coba bayangkan rutinitas harian kita saat ini. Semuanya serba instan. Kita hidup di era di mana siklus kepuasan (reward loop) terjadi sangat cepat namun dangkal. Lalu, kita mencoba menanam benih tomat. Tomat tidak peduli seberapa stres kita hari ini. Ia menuntut waktu, air, cahaya, dan kesabaran ekstra. Di balik proses yang lambat ini, ternyata ada sebuah rahasia tersembunyi di dalam kompos yang kita sentuh. Sebuah mekanisme biologis luar biasa yang anehnya menjadi penangkal ampuh dari depresi kehidupan urban. Sesuatu yang bahkan tidak terlihat oleh mata telanjang.
Inilah fakta ilmiahnya yang sangat memesona. Di dalam tanah organik yang sehat, hidup sebuah bakteri bernama Mycobacterium vaccae. Ketika teman-teman mengaduk tanah, menyiangi gulma, atau menyirami pot, bakteri mikroskopis ini terhirup atau masuk ke tubuh melalui pori-pori kulit. Apa yang dilakukannya di dalam sana? Studi neurosains menemukan bahwa bakteri ini menstimulasi neuron di otak kita untuk memproduksi serotonin. Ya, zat kimia yang sama persis yang membuat kita merasa bahagia, rileks, dan terhindar dari kecemasan. Tanah, secara harfiah, adalah antidepresan alami.
Selain keajaiban biologi, ada juga keajaiban psikologi. Ilmu psikologi mengenal konsep Self-Determination Theory. Teori ini menyebutkan bahwa manusia butuh tiga hal untuk merasa utuh: otonomi (kendali penuh), kompetensi (rasa mampu), dan keterikatan (relatedness). Menumbuhkan makanan sendiri di balkon apartemen memberikan ketiganya sekaligus. Kita punya kendali atas apa yang kita tanam. Kita merasa sangat kompeten saat melihat benih itu pecah menjadi kecambah. Dan kita merasa terikat kembali dengan siklus kehidupan alam yang jauh lebih besar dari sekadar tenggat waktu pekerjaan bulanan. Mengamati daun yang tumbuh lambat memaksa otak kita keluar dari mode fight-or-flight akibat stres perkotaan, dan masuk ke mode rest-and-digest. Ini adalah bentuk pemberontakan psikologis yang paling damai.
Jadi, teman-teman, kita tidak perlu menunggu punya lahan berhektar-hektar di kaki gunung untuk mulai menyentuh tanah. Sebuah pot kecil berisi tanaman kemangi atau cabai di ambang jendela yang terpapar matahari pagi sudah lebih dari cukup untuk memulai terapi ini. Urban farming pada akhirnya bukan hanya soal menghasilkan makanan organik atau menghemat uang belanja. Ini adalah tentang menyelamatkan keutuhan jiwa kita sendiri. Ini adalah cara kita membuktikan bahwa di tengah hutan beton yang dingin dan kaku, kita masih memiliki kelembutan untuk merawat sebuah kehidupan. Dan pada akhirnya, saat kita menyirami tanaman tersebut setiap pagi, sejatinya kita sedang menyirami dan menumbuhkan kembali kemanusiaan kita yang sempat layu. Mari kita mulai kotor-kotoran sedikit. Tangan yang berlumur tanah adalah pertanda dari pikiran yang sedang menyembuhkan dirinya sendiri.